HasAn's bloG

sebuah Blog PribadiKu....:)

TRIK MEMPERBAIKI WINDOWS XP



TRIK MEMPERBAIKI WINDOWS XP

1. Memperbaiki Instalasi (Repair Install)

Jika Windows XP Anda rusak (corrupted) dimana Anda tidak mempunyai sistem operasi lain untuk booting, Anda dapat melakukan perbaikan instalasi (Repair Install) yang bekerja sebagaimana setting (pengaturan) yang awal.

  • Pastikan Anda mempunyai kunci (key) Windows XP yang valid.

  • Keseluruhan proses akan memakan waktu kurang lebih 1/2 atau 1 jam, tergantung spek komputer Anda.

  • Jika Anda dimintai password administrator, sebaiknya Anda memilih opsi perbaikan (repair) yang kedua,bukan yang pertama.

  • Masukkan CD Windows XP Anda dan lakukan booting dari CD tersebut.

  • Ketika sudah muncul opsi perbaikan kedua R=Repair, tekan tombol R Ini akan memulai perbaikan.

  • Tekan tombol F8 untuk menyetujui proses selanjutnya "I Agree at the Licensing Agreement"

  • Tekan tombol R saat direktori tempat Windows XP Anda terinstal. Biasanya C:\WINDOWS Selanjutnya akan dilakukan pengecekan drive C: dan mulai menyalin file-file. Dan secara otomatis restart jika diperlukan. Biarkan CD Anda dalam drivenya.

  • Berikutnya Anda akan melihat sebuah gambar "progress bar" yang merupakan bagian dari perbaikan, dia nampak seperti instalasi XP normal biasanya, meliputi "Collecting Information, Dynamic Update, Preparing Installation, Installing Windows, Finalizing Installation".

  • Ketika ditanya, klik tombol Next

  • Ketika ditanya untuk memasukkan kunci, masukkan kunci (key) Windows XP Anda yang valid.

  • Normalnya Anda menginginkan tetap berada dalam nama Domain atau Workgroup yang sama.

  • Komputer akan restart.

  • Kemudian Anda akan mempunyai layar yang sama sebagaimana pengaktifan sistem ketika instalasi normal.

  • Register jika Anda menginginkannya (biasanya tidak diperlukan).

Selesai & Sekarang Anda bisa log in dengan account Anda yang sudah ada.



2. NTOSKRNL Rusak atau Hilang (Missing or Corrupt)

Jika Anda mendapati pesan error bahwa "NTOSKRNL not found" / NTOSKRNL tak ditemukan lakukan:

  • Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.

  • Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.

  • Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.

  • Biasanya #1

  • Pindahlah ke drive CD Drive Anda berada.

  • Tulis: CD i386

  • Tulis: expand ntkrnlmp.ex_ C:\Windows\System32\ntoskrnl.exe

  • Jika Windows XP Anda terinstal di tempat lain, maka ubahlah sesuai dengan lokasinya.

  • Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT



3. HAL.DLL Rusak atau Hilang (Missing or Corrupt)

Jika Anda mendapatkan error berkenaan dengan rusak atau hilangnya file hal.dll, ada kemungkinan file BOOT.INI mengalami salah konfigurasi (misconfigured).

  • Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.

  • Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.

  • Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.

  • Biasanya #1

  • Tulis: bootcfg /list

  • Menampilkan isi/masukan pada file BOOT.INI saat ini

  • Tulis: bootcfg /rebuild

  • Memperbaiki konfigurasi dari file BOOT.INI

  • Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT




4. Direktori \WINDOWS\SYSTEM32\CONFIG rusak atau hilang


Jika Anda mendapatkan error dengan tulisan:

"Windows could not start because the following files is missing or corrupt
\WINDOWS\SYSTEM32\CONFIG\SYSTEM or \WINDOWS\SYSTEM32\CONFIG\SOFTWARE"

  • Masukkan CD Windows XP dan booting dari CD tersebut.

  • Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.

  • Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.

  • Biasanya #1

  • Masukkan password administrator jika diperlukan.

  • Tulis: cd \windows\system32\config

  • Berikutnya tergantung di bagian mana letak terjadinya kerusakan:

  • Tulis: ren software software.rusak ATAU ren system system.rusak

  • Berikutnya lagi juga tergantung di bagian mana letak terjadinya kerusakan:

  • Tulis: copy \windows\repair\system

  • Tulis: copy \windows\repair\software

  • Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT

5. NTLDR atau NTDETECT.COM tak ditemukan
(NTLDR or NTDETECT.COM Not Found)

  • Jika Anda mendapati error bahwa NTLDR tak ditemukan saat booting:

  1. Untuk partisi tipe FAT

  • Silakan Anda melakukan booting dari disket Win98 Anda dan salinlah file NTLDR atau NTDETECT.COM

  • Dari direktori i386 ke drive induk/akar (root) C:\

  1. Untuk Partisi NTFS

  • Pada saat muncul opsi R=Repair yang pertama, tekan tombol R.

  • Tekan angka sesuai dengan lokasi instalasi Windows yang ingin diperbaiki yang sesuai.

  • Biasanya #1

  • Masukkan password administrator jika diperlukan.

  • Masukkan perintah berikut, dimana X: adalah alamat drive dari CD ROM Anda (Sesuaikan!).

  • Tulis: COPY X:\i386\NTLDR C\:

  • Tulis: COPY X:\i386\NTDETECT.COM C:\

  • Keluarkan CD Anda dan ketikkan EXIT


[+/-] Selengkapnya...

GELAR KYAI DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT ISLAM DI JAWA

GELAR KYAI DALAM PERSPEKTIF
MASYARAKAT ISLAM DI JAWA

By: HasanMa'ruf

A.Pengertian Kyai Berdasarkan Pandangan Umum
Kyai adalah sebutan bagi alim ulama atau seorang yang cerdik dan pandai dalam agama Islam. (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1989: 437). Dalam Bahasa Inggris disebut sebagai pemimpin agama (tittle of religious leader). Kyai berarti pula sebutan bagi guru ilmu ghaib (dukun).
Kyai juga berarti orang yang sangat mengetahui atau menguasai ilmu agama Islam, (Sunarjo, 1980: 24).
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, sebenarnya masyarakat secara umum memang memiliki pandangan tidak terlalu jauh berbeda terhadap penjelasan dari pengertian tersebut. Masyarakat umum cenderung mengetahui dan menganggap seorang kyai sebagai orang yang pandai dan fasih dalam ilmu agama, atau lebih spesifiknya mereka dikategorikan sebagai ulama yang dianggap sebagai orang-orang terpilih yang diberikan keutamaan lebih tinggi oleh Allah dibanding yang lainnya, karena sifat taat dan keilmuan tentang agama yang mereka miliki. Bahkan ada pandangan yang menganggap bahwa mereka adalah wali Allah (waliyulloh).
Hal tersebut dapat dilihat dalam fenomena saat ini, zaman sekarang banyak ulama yang cukup berpengaruh di masyarakat juga mendapat gelar kyai.
Masyarakat biasanya mengharapkan seorang kyai yang dapat menyelesaikan persoalan-persoalan keagamaan praktis sesuai dengan kedalaman pengetahuan yang dimilikinya. Semakin tinggi kitab-kitab yang ia ajarkan, ia akan semakin dikagumi, banyak perhatian dan penuh pengabdian kepada Tuhan dan tidak pernah berhenti memberikan kepemimpinan keagamaan. Seperti memimpin pada saat sholat berjama’ah, memberikan khutbah Jum’at dan menerima undangan pernikahan, kematian, dan lain-lain.
Kyai merupakan tokoh yang dianggap penting dalam masyarakat Islam di Indonesia pada umumnya. Sebagian besar adalah merupakan pimpinan sebuah pesantren dengan tugas utama sebagai guru dan pembimbing rohani.
Secara teori, semua kyai adalah ulama meski dalam kenyataannya kemampuan pengetahuan Islam mereka beragam. Beberapa kyai memiliki pengetahuan mendalam, yang lain hanya memiliki sedikit pengetahuan agama.

B.Gelar Kyai dalam Perspektif Masyarakat Islam di Jawa
1.Masyarakat Islam di Jawa
Dalam buku Indonesian Heritage, kepercayaan di Indonesia di bagi atas lima agama yang telah umum diketahui masyarakat, namun khususnya di pulau Jawa beragam sekali kepercayaan yang dianut, diantaranya animisme, dinamisme, dan hinduisme yang sangat mempecayai ruh-ruh halus dan daya magis baik yang terdapat dalam pohon-pohon, maupun benda-benda yang mengandung unsur mistik, juga dianggap memiliki kekuaan Tuhan. Khususnya di Jawa masyarakat yang beragama Islam mereka dengan taat menjalani perintah agama di sisi lain mereka masih menyembah keris dan melakukan semedi serta melakukan ritual lainnya sebagai perantara untuk berhubungan dengan Tuhan.
Hal ini semakin melekat saja pada diri seorang kyai yang mengaku bahwa dirinya taat agama kepercayaan animisme dan hinduisme serta dinamisme yang disatukan ke dalam kepercayaan Islam telah menjadi budaya bagi mereka khususnya para kyai yang meyakini bahwa benda-benda bertuah seperti keris, batu-batu dan pohon-pohon semua itu dianggap memiliki daya magis dan kekuatan mistik yang tidak kalah kuat dengan kekuatan Tuhan.

2.Definisi Kebatinan (Kejawen)
Kebatinan merupakan bentuk kerohanian Jawa yang menggabungkan kepercayaan dan kegiatan keagamaan kuno orang Jawa dengan tradisi mistik Hindu, Budha, dan Sufi, ada kemungkinan kelompok kebatinan masa kini juga mengandung unsur kekristenan. Meski di luar Jawa juga terbentuk kelompok kebatinan namun sebagian besar berasal dari Jawa dan sebagian besar anggotanya pun orang Jawa. (Sunarjo, 1998: 231)
Arti kata kebatinan adalah “bagian dalam” konsep bagian dalam/ batin menuntut kita menuju inti pemahaman Jawa tentang mistik sebagai olah kehidupan batin seseorang. Berbeda dari kewajiban seseorang lahiriyah, sebagai seorang beragama perjalanan batin yang dilakukan adalah untuk menjadi orang baik terhadap sesama dan ambil bagian dalam ibadah umum untuk memuja Sang Maha Kuasa. Kehidupan batin dapat dicapai dengan cara memusatkan perhatian dan melupakan dunia melalui semedi sambil menunggu munculnya pengalaman yang secara kualitatif berbeda, Hindu, Budha, dan Islam (dalam bentuk sufi) masuk ke Jawa dengan membawa perihal cara semedi, masing-masing harapan yang pernah terjadi pada saat dunia batin terbuka lebar. Dewasa ini cara yang paling banyak dilakukan untuk mencapai dunia batin meliputi berbagai bentuk asketisme (bertapa, berpuasa, bergadang semalam suntuk, membiarkan diri di sengat matahari ataupun dingin), semedi mengatur pernafasan dan sebagai pelengkap disiplin diri melakukan permohonan pada dunia arwah.
Seseorang yang akan melakukan perjalanan kebatinan biasanya meminta petunjuk dapat diberikan oleh orang yang mempunyai kedudukan sebagai guru atau kyai. Oleh karena itu pada masa lalu berkembang minat diantara prajurit muda dan perampok untuk magang pada seorang guru agar dapat memperoleh kekuatan yang dapat membuatnya kebal.
Sekarang masih ada beberapa pelaku yang memamerkan kekebalan yang dimilikinya. Kepercayaan bahwa kegiatan semedi dan asketis dapat mendatangkan kekuatan adi kodrati juga membuat guru menjadi terkenal diantaranya orang-orang yang tidak ingin menjadi ahli kebatinan tetapi hanya memohon mantra untuk mengobati penyakit fisik atau murah rezeki dalam berniaga. Para ahli kebatinan yang mengabulkan permintaan bantuan serupa itu biasanya disebut kyai.
Berbagai kelompok kebatinan orang Jawa memiliki keragaman ajaran yang berkembang dari ajaran Hindu, Budha, Islam dan Kristen. Sebagian diantaranya tetap melestarikan kepercayaan reinkarnasi sementara itu yang lain menolak. Beberapa kelompok kebatinan memusatkan pada orang suci atau dewa yang dianggap dapat membantu seseorang menemukan jalan menuju Tuhan, yang lain melarang dan lebih senang melakukan hubungan langsung pada yang maha kuasa. Banyak penganut kebatinan memelihara hubungan dengan dunia ghaib Jawa, mencari bantuan memecahkan masalah praktis, seperti perdagangan, politik dan cinta.
Konon, kebanyakan kekuatan Ilahi dinasti-dinasti Jawa bersemayam dalam benda-benda pusaka kerajaan, antara lain sejumlah keris dan tombak. Keris yang paling berharga dibuat dari besi dibubuhi “batu bintang” pada proses penempaan, yang sering kali didapatkan lewat mimpi, seorang pembuat keris yang handal akan berpuasa dan bersemedi sebelum menempa sebilah senjata. Mata senjata ini akan diberkati suatu kekuatan khusus melalui upacara yang diikuti pembuat keris (empu) sesuai keinginan calon pemiliknya. Seorang pencuri akan tahu bahwa kekuatan keris tersebut melawannya meskipun keris itu dapat dijual atau ditukar melalui suatu upacara keagamaan yang tepat.
Untuk menjaga agar kekuatan keris itu tidak hilang atau berubah negatif pemilik harus mengikuti berbagai kegiatan teratur antara lain upacara penyucian tahun pertama kalender Jawa (Syura atau Syawal), penyucian itu dapatmenyingkirkan pencemaran lingkungan yang mungkin mempunyai dampak negatif pada kekuatan dunia yang menyatu di dalam keris. Melalui laku kejawen, seperti semedi keris mampu menyerap kekuatan adi kodrati yang lebih besar. Dalam upacara penyucian dupa dan bunga rampai merupakan makanan “roh” yang bersemayam dalam keris. Keharuman dupa dan kembang setaman akan menyatukan pemiliknya dengan kekuatan keris.
Pada abad ke 19 kelompok Islam pembaru merasa prihatin karena dalam kehidupan budaya keagamaan kelompok kebatinan tetap melakukan hubungan dengan dunia ghaib. Sementara itu warisan Hindu yang tersebar dalam banyak ajaran kebatinan abad ke-20 menganggap permohonan kepada dewa merupakan perilaku yang sesuai untuk menuju pada yang Maha Kuasa dan suatu bantuan dibutuhkan untuk menuju pemahaman tertinggi tentang Tuhan. Sekalipun agar berbeda, tradisi Sufi Islam berpengaruh kuat terhadap kelompok kebatinan, sampai dengan abad ke-20 masih toleran atas sikap orang Jawa yang berhubungan dengan roh selain terhadap yang Maha Kuasa.
Sejak abad ke-19 terjadi ketegangan tajam antara orang Islam Jawa yang merasa agama diperalat untuk berurusan dengan penghuni dunia roh. Sementara itu orang Islam kejawen merasa wajib meneruskan hubungan mereka dengan para leluhur dan makhluk dunia roh, dan dalam waktu yang bersamaan orang jawa tersebut mengakui Allah, tuhan yang maha kuasa.oleh karena itu tradisi kejawen merupakan suatu ragam dalam spektrum kegiatan keagamaan orang Islam Jawa.
Dalam terdisi kejawen, arwah nenek moyang pendiri desa dipercaya selalu terkait dengan kesejahteraan warga desa, juga terkait dengan berbagai kategori dari roh-roh tersebut. Ada yang mengaitkan wilayahnya dari segi kesejarahan, atau legenda khusus dari setiap arwah. Roh penunggu disebut danyang. Danyang yang terkemuka semat, pamong seluruh Jawa, bantuannya diharapkan banyak orang. Selain itu, bantuan juga diharapkan dari tokoh-tokoh pemerintah yang berkuasa dari kalangan mistik roh lain yang banyak dupuja oleh sebagian besar kejawen adalah tokoh-tokoh legendaris (seperti wali songo dan juga para tokoh zaman Hindu).
Dalam mencari bantuan roh tertentu penganut kejawen berjiarah ke makam atau tempat lain yang berkaitan dengan roh yang bersangkutan. Apalagi mereka mempunyai kepentingan pribadi peristiwa adat yang sangat lazim dilakukan seperti kelahiran, pernikahan dan kematian mampu mengumpulkan orang untuk memanggil arwah. Pada dasarnya “selamatan” merupakan upacara agama dengan jamuan makan yang dipimpin oleh seorang pemuka Islam namun ada sesajen untuk dunia roh, saling menghargai antara manusia dan dunia roh akan menciptakan keselarasan (selamat) dan kemakmuran yang merupakan nilai inti tradisi kejawen.
Tradisi kejawen mengenal banyak jenis makhluk adi kodrati, yang paling dekat dengan seseorang adalah roh saudara yang lahir bersamaan dengannya dan mengiringi sepanjang hidupnya sebagai pasangan pembantu poensial. Roh bersaudara ini dihormati dengan sesajian dengan perayaan hari kelahiran seseorang yang terjadi tiap 35 hari ketika hari pekan Jawa yang terdiri atas lima hari itu kebetulan muncul bersamaan dengan hari pekan umum berepatan orang tersebut lahir. Murid-murid, seorang guru dan para relasi lain boleh mengikuti acara upacara bila tidak upacara tersebut biasanya merupakan suatu acara pribadi, hal ini adalah inti kegiatan tradisi kejawen.
3.Gelar Kyai di Kalangan Muslim Jawa
Pada umumnya, masyarakat menilai bahwa kyai adalah sepenuhnya ulama yang sangat mengetahui dan menguasai agama Islam tanpa diteliti terlebih dahulu unsur apa yang digunakannya. Mereka menganggap bahwa kyai adalah seorang yang sangat memahami agama Islam dan tidak mengenal unsur lain kecuali unsur Islam. Akan tetapi anggapan tersebut kebanyakan kurang tepat dan menyimpang dari makna yang sebenarnya.
Pada kenyataannya, pemberian gelar kyai banyak sekali yang menyimpang dari makna sebenarnya. Nama kyai tersebut hanya digunakan sebagai topeng untuk menutupi kesesatan dengan cara menyusupkan ajararan-ajaran Islam. Dengan kata lain, kemasannya Islam tetapi isinya kesesatan.
Di sisi lain, kyai juga merupakan sebuah unsur penting yang membidani lahirnya pesantren-pesantren. Atau dengan kata lain, kyai merupakan cikal bakal dari sebuah pesantren. Sehingga kelangsungan hidup sebuah pesantren sangat bergantung pada kemampuan pesantren tersebut untuk memperoleh seorang kyai pengganti yang berkemampuan cukup tinggi pada waktu ditinggal mati oleh kyai yang terdahulu (Sunarjo, 1980:61).
Namun, kebanyakan masyarakat muslim di jawa menyimpulkan bahwa seorang kyai adalah orang yang memahami agama Islam, padahal jika ditinjau kembali kyai adalah sebutan bagi benda-benda bertuah yang memiliki kekuatan magis atau gaib.
Sebutan kyai yang telah melekat di sebagian besar masyarakat muslim di jawa nampaknya sangat sulit untuk dihilangkan, tetapi juga sangat tidak terpuji jika dibiarkan begitu saja khususnya oleh umat Islam yang beriman kepada Allah SWT. Sebagai orang Islam yang benar-benar yakin akan ajarannya tentu tidak akan sembarangan dalam memberikan gelar kyai kepada seseorang yang hanya sedikit dalam memahami ajaran Islam.
Setelah ditinjau lebih jauh, ternyata gelat kyai tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang diinginkan karena gelar kyai hanya sebuah sebutan dari leluhur yang berkaitan dengan kejawen dan kebatinan. Hal ini dibuktikan dengan adanya upacara keagamaan yang seringkali dilakukan oleh masyarakat muslim di jawa sebagai syarat dan perantara untuk beribadah kepada Allah SWT. Kyai juga seringkali melakukan bidah seperti mengadakan saweran dalam pernikahan serta mengadakan tahlilan dalam acara kematian yang padahal sudah jelas sekali ajaran-ajaran tersebut tidak ada dalam Islam.
Tapi nampaknya para kyai sering kali mempimpin kegiatan tersebut tanpa disadari bahwa kegiatan-kegiatan tersebut tanpa disadari bahwa kegiatan-kegiatan tersebut adalah unsure lemusyrikan. Oleh sebab itu, janganlah terjebak oleh sebutan kyai karena tak selamanya gelar kyai itu orang yang sangat memahami dan menguasai ajaran Islam melainkan gelar kyai itu cenderung mengarah kepada bid’ah tahayul dan musyrik.
Setelah dikaji ulang gelar kyai ternyata tidak hanya identik dalam tradisi pesantren tetapi kyai juga sangat erat kaitannya dengan agama diluar Islam misalnya menurut kepercayaan animism dan dinamisme, nama kyai dalam keyakinan ini sering digunakan untuk memanggil roh nenek moyang dan arwah leluhur. Padahal cukup jelas bahwa Allah menyampaikan wahyu melalui Nabi untuk menuntun umatnya kepada jalan yang lurus tanpa melewati jalan kesesatan dan Allah telah mewariskan kitab (Al-Qur’an) kepada orang-orang yang terpilih.
Sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an surat Fathir ayat 32 :
“Kemudian Kitab itu kami wariskan kepada orang-orang yang kami pilih di antara hamba-hamba kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”.
Namun dalam hal ini para kyai khususnya yang memahami ajaran Islam tidak lagi memperhatikan apa yang seharusnya mereka lakukan. Mereka cenderung mengajak umat ke dalam kesesatan, mereka berabligh hanya untuk dirinya sendiri mereka tidak lagi member uswah yang baik terhadap umat.
Oleh karena itu kehadiran kyai sangat mengkhawatirkan bagi keselamatan umat. Bagaimanapun perilaku keseharian mereka menjalani agama Islam sehingga banyak menyesatkan umat.
Dan tidak sedikit para kyai mereka menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah yakni mereka menyembunyikan pengetahuan yang ada dalam dirinya.
Mereka tidak menyampaikan apa yang diperintahkan Rasul sebagaimana sabda Rasul yang artinya : “Sampaikanlah apa yang kamu terima dari saya walaupun hanya satu ayat” (HR. Bukhari).
Jadi tidak sepatutnyalah seseorang diberi nama gelar kyai dengan tujuan menuntun umat ke jalan yang sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah dan yang diajarkan Rasulullah, ternyata memalingkan ajaran tersebut dengan menyatukan yang hak dan yang bathil melalui jalannya tahayul, bid’ah dan khurofat yang jelas jelas sangat menyesatkan umatnya.
Sekiranya kita lebih pantas dan aman dengan member gelar ustadz yang sekiranya jauh dari jalan kesesatan tanpa adanya campuran ajaran tahayul, khurofat dan bid’ah. :)

[+/-] Selengkapnya...

REFORMASI VERSI PERSIS


11 Juli 1998 Persatuan Islam mengeluarkan catatan dalam bentuk

REFORMASI VERSI PERSATAN ISLAM (PERSIS)


11 Juli 1998 Persatuan Islam mengeluarkan catatan dalam bentuk konsep reformasi versi Persis yang isinya adalah sebagai berikut:

Persatuan Islam mendukung dilakukannya reformasi yang menyeluruh dalam bidang pendidikan dan dakwah, politik, ekonomi, hukum serta budaya agar bangsa Indonesia tidak semakin terperosok dalam jurang kehancuran, kenistaan dan kehinaan. Adapun reformasi menyeluruh tersebut, berpangkal tolak pada reformasi aqidah dan akhlak mulai dari pimpinan bangsa hingga rakyat kebanyakan, sehingga perjalanan bangsa ini selalu berada dalam ridlo dan ampunan Allah SWT.

Atas dasar pemikiran di atas, Pimpinan Pusat Persatuan Islam kemudian mengagendakan reformasi sesuai dengan urgensi dan prioritasnya sebagai berikut:


  1. Persoalan Dasar Reformasi

    1. Kebiasaan lahir umat manusia (bangsa Indonesia) hanya bisa diubah dan diperbaiki dengan memperbaiki dan mengubah keadaan batinnya terlebih dahulu.

    2. Suatu masyarakat hanya bisa diubah dan diperbaiki dengan memperbaiki dan mengubah anggota masyarakat itu sendiri; manusia sebagai makhluk sosial.

    3. Membina kemakmuran hidup, membangun keadilan sosial dan meratakan kesejahteraan masyarakat haruslah dimulai dari lapisan bawah.

    4. Membersihkan masyarakat dari korupsi, kolusi dan nepotisme haruslah dimulai dengan pembasmian dari struktur birokrat di tingkat paling atas (pucuk pimpinan nasional) hingga struktur birokrasi paling bawah.


  1. Konsep Dasar Reformasi

Konsep Dasar idealisme perjuangan reformasi mengarah pada:

    1. Gerakan perjuangan revolusioner, yakni perjuangan yang hendak mengubah struktur masyarakat secara menyeluruh sampai ke akar-akarnya; secara terus terang, tidak ragu-ragu, dan penuh kepastian dengan keteguhan iman, sikap ikhlas, memiliki cita-cita dan kesiapan berkurban untuk mewujudkannya.

    2. Gerakan mengubah sistem yang didasarkan pada istikbar (keangkuhan kekuasaan dan eksploitasi) dan istidl’af (penekanan dan penindasan) dengan sistem ruhama (kasih sayang) antar sesama.

    3. Gerakan moral dengan menjadikan kalimat tauhid sebagai rumusan yang terformulasikan dalam aktivitas nyata sebagai landasan khittah perjuangan reformasi.


Adapun konsep dasar reformasi harus dilakukan dalam lima bidang perjuangan:

  1. Pembinaan dalam bidang aqidah; pembinaan iman dan kepercayaan

  2. Pembinaan dalam bidang ibadah; bidang pembaktian diri pribadi kepada Allah SWT.

  3. Pembinaan dalam bidang muamalah; bidang pergaulan hidup bersama dalam hubungan antar manusia.

  4. Pembinaan dalam bidang maisyah; bidang ekonomi yang berdasarkan pada rijki yang adil.

  5. Pembinaan dalam bidang politik kenegaraan.

  1. Faktor-faktor Pendorong Gerakan Reformasi

  1. Susunan masyarakat yang rela menjadi makmum; pengikut yang taat, setia dan tahu posisi dalam menempatkan dirinya dalam barisan umat yang teratur.

  2. Kecakapan memilih dan mencari imam (pemimpin nasional) yang adil, tempat menyuarakan dan mempercayakan perjuangan reformasi.

  3. Kecakapan memilih dan mencari wakil-wakil rakyat yang bisa dipercaya mewakili suara rakyat bukan wakil rakyat yang duduk untuk dan atas nama kepentingan pribadi atau golongan.

  4. Kemampuan dari figur nasional untuk memberikan pimpinan dan bimbingan kepada rakyatnya dengan memberi teladan yang baik sesuai dengan tuntutan dan aspirasi rakyat.

  5. Kerelaan dan kesediaan, ketaatan dan kepatuhan dari segenap potensi dan komponen bangsa untuk menjalankan perintah dan instruksi dari pimpinannya.


  1. Tujuan Gerakan Reformasi bagi Umat Islam

  1. Kemenangan umat Islam dalam lapangan hukum, konstitusi negara yang sejalan dengan aspirasi umat Islam, lahirnya negara Republik Indonesia yang berkejayaan dan berkebajikan yang diliputi oleh keampunan Ilahi.

  2. Kemenangan umat Islam dalam lapisan birokrat, pemerintah dan penguasa negara, baik legislatif maupun eksekutif, sehingga umat Islam bisa mengerahkan seluruh potensi untuk mengendalikan kekuasaan dan pemerintahan, minimal tidak berada dalam posisi sebagai penonton kekuasaan.

  3. Kemenangan di lapangan mahkum alaih, lapangan masyarakat dan pergaulan hidup bersama yang berdasarkan masyarakat Islami menuju masyarakat khaira umat (umat yang paling baik dan utama). Sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah Saw.


  1. Langkah Operasional Reformasi

  1. Reformasi di Bidang Pendidikan dan Dakwah

  2. Reformasi di bidang Penyiaran atau Penerangan

  3. Reformasi di Bidang Politik

  4. Reformasi di Bidang Hukum

  5. Reformasi di Bidang Ekonomi


  1. Rekomendasi

  1. Reformasi dalam segala bidang harus dilandasi oleh reformasi akhlak secara menyeluruh dari segenap komponen bangsa agar tercipta masyarakat yang berkejayaan dalam lingkungan mardhatillah.

  2. Sikap Politik Persis

    1. Persatuan Islam hendak mewujudkan agenda reformasi di atas secara sendiri dan bersama-sama dengan kekuatan Islam lainnya secara konsisten terus menerus hingga menjadi kenyataan.

    2. Persatuan Islam akan menempatkan diri sebagai kekuatan penekanan terhadap pelaksanaan reformasi sehingga berjalan sesuai dengan agenda versinya.

    3. Sehubungan dengan maraknya pendirian partai politik sebagai wujud luapan “kemenangan” arus reformasi yang tengah berlangsung, Persatuan Islam tetap memposisikan diri sebagai kekuatan moral dan tidak akan berubah mejnjadi partai politik, tetapi tidak apriori terhadap berdirtinya partai Islam.

    4. Persatuan Islam siap secara aktif bahu membahu dengan pihak lain yang hendak memperjuangkan tegaknya ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan.

  3. Adapun fungsi jam’iyyah Persatuan Islam dalam gerakan reformasi adalah sebagai berikut:

    1. Mengislamkan masyarakat manusia dengan jalan melatih diri sendiri, sebagai orang perseorangan hingga menjadi manusia muslim yang rela menerima segala ketetapan agama dan bersedia menjalankan segala perintah agama. Hal ini bisa diwujudkan dengan mengintensifkan pendidikan dan dakwah yang sejalan dengan arus gerakan reformasi total.

    2. Menyampaikan pengertian agama dalam segala bidang kehidupan, politik, sosial, ekonomi, hukum, pendidikan, dll. dan memberikan warna terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

    3. Menyusun diri dan tenaga kaum muslimin dalam jama’ah perjuangan yang kuat, dengan mematuhi segala prinsip-prinsip agama, walaupun bertentangan dengan kebiasaan dan keinginan diri sendiri.

    4. Menyusun dan mengadakan perlawanan dan tantangan terhadap setiap gerakan dan aktifitas yang merugikan umat Islam dengan cara yang sepadan sesuai dengan ajaran Islam.

    5. Bekerja keras tiada hentinya membangun masyarakat Islamiyah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

    6. Melakukan Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar dalam segala aspek kehidupan dengan cara yang merujuk kepada al-Qur’an dan Sunnah.

    7. Persis beserta otonomnya dituntut secara proaktif menyikapi arus reformasi dan melakukan aksi-aksi yang proporsional sesuai dengan kemampuan yang dimiliki yang diwujudkan dalam gerakan yang rapi, bertahap, konsepsional dan konstitusional secara teratur dan sungguh-sungguh.

    8. Sasaran aktivitas reformasi bagi PErsis dan otonomnya bukanlah kepentingan sesaat melainkan sebagai wujud bertanggung jawab dalam menentukan desain masa depan khususnya umat Islam.

    9. Persis harus mampu membuktikan diri sebagai harakah tajdid yang dapat memberi muatan konseptual ideologis berdasar hukum (syar’i) yang lebih konkret dalam mengisi agenda reformasi di bidang hukum tanpa meninggalkan komitmen untuk turut memberi muatan positif di berbagai bidang.

[+/-] Selengkapnya...



MEMPERERAT UKHUWAH MELALUI SHALAT BERJAMA’AH
By: Zaenuddin

A.Pengertian Ukhuwah
Kata ukhuwah berasal dari kata bahasa arab yang biasa diartikan sebagai “persaudaraan”.Pada mulanya,kata ukuwah ini terambil dari akar kata yang mempunyai arti kata ukhuwah berasal dari kata bahasa arab yang biasa diartikan sebagai “persaudsaraan”.Pada mulanya,kata ukuwah ini terambil dari akar kata yang mempunyai arti memperhatikan.makna asal ini mempunyai kesan bahwa persaudaraan mengharuskan adanya perhatian semua pihak yang merasa bersaudara.
Bisa jadi, perhatian itu pada mulanya lahir karna adanya persamaan, diantara pihak-pihak yang bersaudara. Sehingga makna tersebut kemudian berkembang, dan pada akhirnya ukhuwah diartikan sebagai “setiap persamaan dan keserasian dengan pihak lain, baik persamaan keturunan, dari segi ibu, bapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan”. Secara majazi kata ukhuwah (persaudaraan) mencakup persamaan salah satu unsur seperti suku, agama, profesi, dan perasaan. Dalam kamus-kamus bahasa arab ditemukan bahwa kata akh yang membentuk kata ukhuwah digunakan juga dengan arti teman akrab atau sahabat. Menurut prof. Dr. M. Quraish shihab, MA. Kata Islamiyyah yang dirangkaikan dengan kata ukhuwah lebih tepat dipahami sebagai adjektifa, sehingga ukhuwah Islamiah berarti “persaudaraan yang bersifat Islami atau yang diajarkan oleh Islam”. Paling tidak, ada dua alas an untuk mendukung pendapat ini”.
Pertama, Al-Qur`an dan hadits memperkenalkan bermacam-macam persaudaraan, seperti yang akan diuraikan selanjutnya.
Kedua, karena alasan kebahasaan. Di dalam bahasa Arab, kata sifat selalu harus disesuaikan dengan yang disifatinya. Jika yang disifati berbentuk indefinitif maupun feminine, kata sifatnya pun harus demikian. Ini terlihat secara jelas pada saat kita berkata ukhuwah Islamiyyah dan Al-Ukhuwah Al-Islamiyyah.
Dalam Al-Qur`an kata akh (saudara) dalam bentuk tunggal ditemukan sebanyak 52 kali. Kata ini dapat berarti :
1.saudara kandung atau saudara seketurunan, seperti pada ayat yang berbicara tentang kewarisan, atau keharaman mengawini orang-orang tertentu, misalnya, diharamkan kepada kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anak perempuanmu, saudara-saudara perempuanmu, saudara-saudara perempuan bapakmu, saudara-saudara perempuan ibumu, (dan) anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki… (QS. An-Nisa [4] : 23).
2.saudara yang dijalin oleh ikatan keluarga, seperti bunyi doa Nabi Musa as yang diabadikan Al-Qur`an, Dan jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku, (yaitu) Harun, saudaraku. (QS. Thaha [20] : 29-30).
3.saudara dalam arti sebangsa, walalaupun tidak seagama seperti dalam firman-Nya, Dan kepada suku ‘Ad, (kami utus) saudara mereka Hud.(QS. Al-A’raf [7] : 65). Seperti telah diketahui kaum ‘Ad membangkang terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Hud, sehingga Allah memusnahkan mereka. (Baca antara lain QS. Al-Haqqah [69] : 6-7).
4.saudara semasyarakat, walaupun berselisih paham. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina, dan aku mempunyai seekor saja, maka dia berkata kepadaku, “serahkan kambingmu itu kepadaku”; dan dia mengalahkan aku di dalam perdebatan. (QS. Shad [38] : 23).
Dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda : belalah saudaramu, baik ia berlaku aniaya, maupun teraniaya. Ketika beliau ditanya seseorang, bagaimana cara membantu orang yang menganiaya, beliau menjawab, Engkau halangi dia agar tidak berbuat aniaya. Yang demikian itulah pembelaan baginya. (HR. Bukhari melalui Anas bin Malik).
5.persaudaraan seagama. Ini ditunjukkan oleh firman Allah swt dalam suruat Al- Hujurat ayat 10, sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara.(kota santri @.com)

B. Kiat-Kiat Mempererat Ukhuwah
Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) bukanlah teori. Ini adalah ajaran praktis yang bisa kita lakukan dalam keseharian. Karena itu, nikmatnya ukhuwah tidak akan bisa kita kecap, kecuali dengan mempraktikannya.
Berikut ini adalah di antara kiat-kiat untuk mempererat ukhuwah

1.Mengatakan cinta pada saudara
Rasulullah saw. Bersabda, “Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah dia mengatakan cinta kepadanya.” (Abu Dawud dan Tirmidzi, hadits shahih)
Anas r.a. mengatakan bahwa seseorang berada di sisi Rasulullah saw., lalu salah seorang sahabat melewatinya. Orang yang berada di sisi Rasulullah tersebut mengatakan, “Aku mencintai dia, ya Rasulullah.” Lallu Nabi saw. Bersabda, “Beritahukan kepadanya”. Lalu orang tersebut memberitahukannya dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah”. Kemudian orang yang dicintai itu menjawab, “semoga Allah mencintaimu”.
2.Minta dido’akan dari jauh saat berpisah
Umar bin Khathab berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw. Untuk melaksanakan umrah, lalu Rasulullah saw. Mengizinkanku”. Beliau bersabda, “Jangan lupakan kami, wahai saudaraku, dalam do’amu”. Kemudian ia mengatakan satu kalimat yang menggembirakanku bahwa aku mempunyai keberuntungan dengan kalimat itu di dunia. Dalam satu riwayat, beliau bersabda, “Sertakan kami dalam do’amu, wahai saudaraku”. (Abu Dawud dan Tirmidzi,k hadits hasan shahih)
Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak seorang hamba mu’min yang berdoa untuk saudaranya dari kejauhan malainkan malaikat berkata, “dan bagimu seperti itu”. (Muslim)

3.Bila berjumpa,tunjukkan wajah gembira dan senyuman
Rasulullah saw. Bersabda, “Janganlah kamu meremehkan kebaikan apapun, walaupun sekadar bertemu saudaramu dengan wajah ceria”. (Muslim)
4.Berjabat tangan dengan erat dan hangat
Berjabat tangan setiapkali bertemu. Sebab, Rasulullah SAW. Bersabda, “Tidak ada dua orang muslim yang berjumpa lalu berjabat tangan melainkan keduanya diampuni dosanya sebelum berpisah”.
5.Sering-seringlah berkunjung
Nabi Muhammad saw. Bersabda: “Allah swt. Berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang mencintai karena Aku, keduanya saling berkunjung karena Aku, dan saling memberi karena Aku”. (Imam Malik dalam Al-Muwaththa”.)
6.Ucapkan selamat saat saudara anda mendapat kesuksesan
Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “Barang siapa bertemu saudaranya dengan membawa sesuatu yang dapat menggembirakannya, pasti Allah akan menggembirakannya pada hari kiamat”. (Thabrani dalam Mu’jam Shagir)
7.Berilah hadiah terutama di waktu-waktu istimewa
Hadits marfu’ dari Anas bahwa, “Hendaklah kamu saling memberi hadiah, karena hadiah itu dapat mewariskan rasa cinta dan menghilangkan kekotoran hati”. (Thabrani)

Thabrani juga meriwayatkan hadits marfu’ dari Aisyah r.a. bahwa, “Biasakanlah kamu saling memberi hadiah, niscaya kamu akan saling mencintai”.
8.Berilah perhatian dan Bantu keperluan saudara
Rasulullah saw. Bersabda, “Siapa yang melepaskan kesusahan seorang mukmin di dunia niscaya Allah akan melepaskan kesusahannya di akhirat. Siapa yang memudahkan orang yang kesusahan, niscaya Allah akan memudahkan (urusannya) di dunia dan di akhirat. Siapa yang menutupi (aib) seorang muslim, niscaya Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan di akhirat. Dan Allah selalu menolong hamba-Nya jika hamba tersebut menolong saudaranya”. (Muslim) (www.kota santri.com)
9.Sayang terhadap makhluk dan cinta kepada mereka
10.Cinta kebaikan untuk sesama Muslim
11.Memulai dengan salam
12.Menjaga kehormatan sesama muslim
13.Cinta kepada orang shaleh di majlis mereka
14.Saling menencintai dengan keagungan Allah
15.Orang yang berdo’a untuk saudara muslim
16.Istigfar untuk mu’min dan mu’minat
17.Menunjukan kepada kebaikan
(Tafsir sepersepuluh al-qur`an hal 186-187)

C.UKHUWAH DAN SHALAT BERJAMA’AH
Renggangnya hubungan ukhuwah antara sesama muslim, dikarenakan kurangnya interaksi diantara mereka, atau terjadinya ihtilaf sehingga hal itu mempengaruhi hubungan ukhuwah diantara mereka.
Shalat berjama’ah adalah salah satu alternatif untuk menjalin ukhuwah. Dengan shalat berjama’ah, setidaknya telah meluangkan sedikit waktu untuk menjalin ukhuwah sehingga dengan ini diharapkan dapat menghilangkan problem kesenjangan diantara kaum muslimin.

[+/-] Selengkapnya...

PACARAN DALAM PANDANGAN ISLAM


PACARAN DALAM PANDANGAN ISLAM


a. Islam Mengakui Rasa Cinta
Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.
“Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik .”(QS. Ali Imran :14).
Khusus kepada wanita, Islam menganjurkan untuk mengejwantahkan rasa cinta itu dengan perlakuan yang baik, bijaksana, jujur, ramah dan yang paling penting dari semau itu adalah penuh dengan tanggung-jawab. Sehingga bila seseorang mencintai wanita, maka menjadi kewajibannya untuk memperlakukannya dengan cara yang paling baik.
Rasulullah SAW bersabda,”Orang yang paling baik diantara kamu adalah orang yang paling baik terhadap pasangannya (istrinya). Dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku”.

b. Cinta Kepada Lain Jenis Hanya Ada Dalam Wujud Ikatan Formal
Namun dalam konsep Islam, cinta kepada lain jenis itu hanya dibenarkan manakala ikatan di antara mereka berdua sudah jelas. Sebelum adanya ikatan itu, maka pada hakikatnya bukan sebuah cinta, melainkan nafsu syahwat dan ketertarikan sesaat.
Sebab cinta dalam pandangan Islam adalah sebuah tanggung jawab yang tidak mungkin sekedar diucapkan atau digoreskan di atas kertas surat cinta belaka. Atau janji muluk-muluk lewat SMS, chatting dan sejenisnya. Tapi cinta sejati haruslah berbentuk ikrar dan pernyataan tanggung-jawab yang disaksikan oleh orang banyak.
Bahkan lebih ‘keren’nya, ucapan janji itu tidaklah ditujukan kepada pasangan, melainkan kepada ayah kandung wanita itu. Maka seorang laki-laki yang bertanggung-jawab akan berikrar dan melakukan ikatan untuk menjadikan wanita itu sebagai orang yang menjadi pendamping hidupnya, mencukupi seluruh kebutuhan hidupnya dan menjadi `pelindung` dan ‘pengayomnya`. Bahkan `mengambil alih` kepemimpinannya dari bahu sang ayah ke atas bahunya.
Dengan ikatan itu, jadilah seorang laki-laki itu `the real gentleman`. Karena dia telah menjadi suami dari seorang wnaita. Dan hanya ikatan inilah yang bisa memastikan apakah seorang laki-laki itu betul serorang gentlemen atau sekedar kelas laki-laki iseng tanpa nyali. Beraninya hanya menikmati sensasi seksual, tapi tidak siap menjadi the real man.
Dalam Islam, hanya hubungan suami istri sajalah yang membolehkan terjadinya kontak-kontak yang mengarah kepada birahi. Baik itu sentuhan, pegangan, cium dan juga seks. Sedangkan di luar nikah, Islam tidak pernah membenarkan semua itu. Kecuali memang ada hubungan `mahram` (keharaman untuk menikahi). Akhlaq ini sebenarnya bukan hanya monopoli agama Islam saja, tapi hampir semua agama mengharamkan perzinaan. Apalagi agama Kristen yang dulunya adalah agama Islam juga, namun karena terjadi penyimpangan besar sampai masalah sendi yang paling pokok, akhirnya tidak pernah terdengar kejelasan agama ini mengharamkan zina dan perbuatan yang menyerampet kesana.
Sedangkan pemandangan yang lihat dimana ada orang Islam yang melakukan praktek pacaran dengan pegang-pegangan, ini menunjukkan bahwa umumnya manusia memang telah terlalu jauh dari agama. Karena praktek itu bukan hanya terjadi pada masyarakat Islam yang nota bene masih sangat kental dengan keaslian agamanya, tapi masyakat dunia ini memang benar-benar telah dilanda degradasi agama.
Barat yang mayoritas nasrani justru merupakan sumber dari hedonisme dan permisifisme ini. Sehingga kalau pemandangan buruk itu terjadi juga pada sebagian pemuda-pemudi Islam, tentu kita tidak melihat dari satu sudut pandang saja. Tapi lihatlah bahwa kemerosotan moral ini juga terjadi pada agama lain, bahkan justru lebih parah.

c. Pacaran Bukan Cinta
Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berentu sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.
Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.
Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

d. Pacaran Bukanlah Penjajakan / Perkenalan
Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.
Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,”Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat. (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa’ fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha’ Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)
Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.
Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta’aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.
Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.
Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.
Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.
Sumber : Pusat Konsultasi syariah

[+/-] Selengkapnya...